Senin, 14 Maret 2011

Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan


Bab 3
Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan

                   I. PENDAHULUAN

          Kemiskinan, kata itu nampaknya sudah tak asing dalam telinga kita apa lagi bagi Negara Indonesia ini. Masalah kemiskinan di Indonesia sudah menjadi masalah yang klise bagi kita. Sudah di usahakan untuk dipecahkan masalah itu, tapi hasilnya hingga sekarang kata miskin masih melekap pada Negara kita ini. Harusnya anggapan Negara miskin tidak layak untuk bangsa yang kaya akan hasil bumi dan alamnya.
          Dewasa ini, perekonomian Indonesia sudah ada peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Perekonomian kita sudah mulai meningkat dihitung dari pendapatan perkapita kita tiap tahun.
Dalam bab ini akan membahas tentang masalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan yang ada di Indonesia, terkait dengan pemecahan masalah yang harus dilakukan. Sepertinya kesenjangan pendapatan di Negara ini cukup jauh jika dilihat dari lokasi penduduk dan mata pencaharian mereka.
Kemiskinan merupakan problematika kemanusiaan yang telah mendunia dan hingga kini masih menjadi isu sentral di belahan bumi manapun. Selain bersifat laten dan aktual, kemiskinan adalah penyakit sosial ekonomi yang tidak hanya dialami oleh Negara-negara berkembang melainkan negara maju sepeti inggris dan Amerika Serikat.
Pada bab ini, mencoba memaparkan secara global kemiskinan Negara-negara di dunia ketiga, yaitu Negara-negara berkembang yang nota-benenya ada di belahan benua Asia. Kemudian juga pemaparan secara spesifik mengenai kemiskinan di Negara Indonesia. Adapun yang dimaksudkan Negara berkembang adalah Negara yang memiliki standar pendapatan rendah dengan infrastruktur yang relatif terbelakang dan minimnya indeks perkembangan manusia dengan norma secara global. Dalam hal ini kemiskinan tersebut meliputi sebagian Negara-negara Timur-Tengah, Asia selatan, Asia tenggara dan Negara-negara pinggiran benua Asia.

     II. PEMBAHASAN

1.   Permasalahan Pokok
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan Buatan diakibatkan oleh imbas dari para birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.
Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran. Berikut sedikit penjelasan mengenai kemiskinan yang sudah menjadi dilema mengglobal yang sangat sulit dicari cara pemecahan terbaiknya.
2.    Konsep dan definisi
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Pengertian mengenai kemiskinan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, dalam hal ini Sumodiningrat (1989) mengklasifikasikan kemiskinan menjadi lima jenis, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan kultural, kemiskinan kronis, dan kemiskinan sementara.
     1. Kemiskinan absolut adalah apabila tingkat pendapatan seseorang dibawah garis kemiskinan atau sejumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum (basic needs), antara lain kebutuhan pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang diperlukan untuk hidup dan bekerja.
     2. Kemiskinan relatif adalah apabila seseorang yang mempunyai pendapatan di atas garis kemiskinan, namun relatif lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat sekitarnya. Kemiskinan relatif ini erat kaitannya dengan masalah pembangunan yang sifatnya struktural, yakni kesenjangan akibat kebiijaksanaan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat.
     3. Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh acuan pada sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya tidak mau berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupannya meskipun ada usaha dari pihak luar untuk membantunya.
     4. Kemiskinan kronis adalah kemiskinan yang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :
 (a). Kondisi sosial budaya yang mendorong sikap dan kebiasaan hidup masyarakat yang tidak produktif
 (b). Keterbatasan sumberdaya dan keterisolasian (yaitu daerah-daerah kritis sumberdaya alam dan daerah terpencil)
 (c). Rendahnya taraf pendidikan dan derajat perawatan kesehatan, terbatasnya lapangan kerja, dan ketidakberdayaan masyarakat dalam mengikuti ekonomi pasar.
     5. Kemiskinan sementara adalah kemiskinan yang terjadi akibat adanya :
 (a). Perubahan siklus ekonomi dari kondisi normal menjadi krisis ekonomi.
 (b). Perubahan yang bersifat musiman seperti dijumpai pada kasus kemiskinan nelayan dan pertanian tanaman pangan.
 (c). Bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat.
Pengklasifikasian jenis-jenis kemiskinan seperti tersebut diatas bertujuan agar program-program pengentasan kemiskinan yang akan dilaksanakan dapat tepat sasaran dan efektif dalam penaggulanganya.
Kini di Indonesia jerat kemiskinan itu makin akut. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen Kemiskinan tidak hanya terjadi di perdesaan tapi juga di kota-kota besar seperti di Jakarta. Kemiskinan juga tidak semata-mata persoalan ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural.
Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan pelayanan kesehatan, dan kemudahan – kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern. Pemerintah Indonesia yang berorientasi mengembangkan Indonesia menjadi negara maju dan mapan dari segi ekonomi tentu menganggap kemiskinan adalah masalah mutlak yang harus segera diselesaikan disamping masalah lain yaitu ketimpangan pendapatan, strukturisasi pemerintahan, inflasi, defisit anggaran dan lain lain. 
Masalah kemiskinan yang dihadapi di setiap negara akan selalu di barengi dengan masalah laju pertumbuhan penduduk yang kemudian menghasilkan pengangguran, ketimpangan dalam distribusi pendapatan nasional maupun pembangunan, dan pendidikan yang menjadi modal utama untuk dapat bersaing di dunia kerja dewasa ini.
Tidak dapat dipungkiri bahwa yang menjadi musuh utama dari bangsa ini adalah kemiskinan. Sebab, kemiskinan telah menjadi kata yang menghantui negara-negra berkembang. Khususnya Indonesia. Mengapa demikian? Jawabannya karena selama ini pemerintah [tampak limbo] belum memiliki strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan yang jitu. Kebijakan pengentasan kemiskinan masih bersifat pro buget, belum pro-poor. Sebab, dari setiap permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran, dan kekerasan selalu diterapkan pola kebijakan yang sifatnya struktural dan pendekatan ekonomi [makro] semata. Semua dihitung berdasarkan angka-angka atau statistik.
Padahal kebijakan pengentasan kemiskinan juga harus dilihat dari segi non-ekonomis atau non-statistik. Misalnya, pemberdayaan masyarakat miskin yang sifatnya “buttom-up intervention” dengan padat karya atau dengan memberikan pelatihan kewirauasahaan untuk menumbuhkan sikap dan mental wirausaha [enterpreneur].
Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam kemiskinan bukan karena malas bekerja. Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau melakukan mobilitas sosial secara vertikal.

3.   Pertumbuhan, kesenjangan dan pendapatan
·         Hubungan antara Pertumbuhan dan Kesenjangan: Hipotesis Kuznets
Data decade 1970an dan 1980an mengenai pertumbuhan ekonomi dan distribusi di banyak Negara berkembang, terutama Negara-negara dengan proses pembangunan ekonomi yang tinggi, seperti Indonesia, menunjukkan seakan-akan ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat kesenjangan ekonomi: semakin tinggi pertumbuhan PDB atau semakin besar pendapatan per kapita semakin besar perbedaan antara kaum miskin dan kaum kaya.  Studi dari Jantti (1997) dan Mule (1998) memperlihatkan perkembangan ketimpangan pendapatan antara kaum miskin dan kaum kaya di Swedia, Inggris dan AS, serta beberapa Negara di Eropa Barat menunjukkan kecenderungan yang meningkat selama decade 1970an dan 1980an.  Jantti membuat kesimpulan semakin besar ketimpangan distribusi pendapatan disebabkan oleh pergeseran demografi, perubahan pasar buruh dan perubahan kebijakan public.  Dalam perubahan pasar buruh, membesarnya kesenjangan pendapatan dari kepala keluarga dan semakin besarnya pendapatan dari istri dalam jumlah pendapatan keluarga merupakan dua factor penyebab penting.
Literature mengenai perubahan kesenjangan dalam dsitribusi pendapatan awalnya didominasi oleh apa yang disebuthipotesis Kuznets.  Dengan memakai data antar Negara (cross section) dan data dari sejumlah survey/observasi di tiap Negara (time series), Simon Kuznets menemukan relasi antara kesenjangan pendapatan dan tingkat perdapatan per kapita berbentuk U terbalik.  Hasil ini diinterpretasikan sebagai evolusi dari distribusi pendapatan dalam proses transisi dari ekonomi pedesaan (rural) ke ekonomi perkotaan (urban) atau ekonomi industry.
·         Hubungan antara Pertumbuhan dan Kemiskinan
Dasar teori dari korelasi antara pertumbuhan dan kemiskinan tidak berbeda dengan kasus pertumbuhan dengan ketimpangan, seperti yang telah dibahas di atas.  Mengikuti hipotesis Kuznets, pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat, dan saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur berkurang.  Namun banyak factor lain selain pertumbuhan yang juga mempunyai pengaruh besar terhadap tingkat kemiskinan di suatu wilayah/Negara seperti struktur pendidikan tenaga kerja dan struktur ekonomi.  Tingkat Kesenjangan: pangsa dari 20% penduduk terkaya dalam jumlah pendapatan periode.

Data 1970 – 1980 menunjukkan ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat kesenjangan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan PDB/pendapatan perkapita, semakin besar perbedaan sikaya dengan simiskin.
Penelitian di Asia Tenggara oleh Ahuja, dkk (1997) menyimpulkan bahwa selama periode 1970an dan 198an ketimpangan distribusi pendapatan mulai menurun dan stabil, tapi sejak awal 1990an ketimpangan meningkat kembali di LDC’s  dan DC’s seperti Indonesia, Thaliland, Inggris dan Swedia.
Janti (1997) menyimpulkan è semakin besar ketimpangan dalam distribusi pendapatan disebabkan oleh pergeseran demografi, perubahan pasar buruh, dan perubahan kebijakan publik. Perubahan pasar buruh ini disebabkan oleh kesenjangan pendapatan dari kepala keluarga dan semakin besar saham pendapatan istri dalam jumlah pendapatan keluarga. Hipotesis Kuznetsè ada korelasi positif atau negatif yang panjang antara tingkat pendapatan per kapita dengan tingkat pemerataan distribusi pendapatan

4.   Penemuan Empiris
1. Distribusi Pendapatan
          Studi-studi mengenai distribusi pendapatan di Indonesia pada umumnya menggunakan data BPS mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susens). Data pengeluaran konsumsi dipakai sebagai suatu pendekatan (proksi) untuk mengukur distibusi pendapatan masyarakat. Demikian pula pengertian pendapatan, yang artinya pembayaran yang didapati karena bekerja atau menjual jasa, tidak sama dengan pengetian kekayaan.
Data pengeluaran konsumsi dipakai sebagai suatu pendekatan (proksi) untuk mengukur distrubusi pendapatan masyarakat. Walaupun diakui bahwa cara ini sebenarnya mempunyai suatu kelemahan yang serius, data pengeluaran konsumsi  bisa memberikan informasi yang tidak tepat mengenai pendapatan, atau tidak mencerminkan tingkat pendapatan yang sebenarnya.
 Akan tetapi, karena pengumpulan data pendapatan di Indonesia seperti di banyak LCDS lainnya masih relatif sulit, salah satunya karena banyak rumah tangga atau individu yang bekerja di sektor informal atau tidak menentu, maka penggunaan data pengeluaran konsumsi rumah tangga dianggap sebagai salah satu alternatif.

Berikut adalah nilai rasio gini Indonesia menurut daerah perkotaan dan pedesaan mulai tahun 1990-1999.
Tahun
Perkotaan
Pedesaan
Nasional
1990
0,34
0,25
0,32
1993
0,33
0,26
0.34
1994
0,35
0,26
0,34
1995
0,35
0,27
0,35
1996
0,35
0,27
0,36
1997
0,35
0,26
0,37
1998
0,33
0,26
0,32
1999
0,34
0,26
0,33
Yang menarik dari data susenas tersebut adalah bahwa ternyata krisis ekonomi tidak membuat ketimpangan dalam distribusi pendapatan menjadi tambah parah, bahkan kelihatannya cenderung menurun. Dan angka Indeks Gini di pedesaan selalu lebih rendah dari pada di perkotaan.
  2. Kemiskinan
Di Indonesia, kemiskinan merupakan salah satu masalah besar. Terutama meliahat kenyataan bahwa laju pengurangan jumlah orang miskin di tanah air berdasarkan garis kemiskinan yang berlaku jauh lebih lambat dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu sejak Pelita I hingga 1997 (sebelum krisis eknomi). Berdasarkan fakta ini selalu muncul pertanyaan, apakah memang laju pertymbuhan yang tingii dapat mengurangi tingkat kemiskinan atau apakahmemang terdapat suatu korelasi negatif yang signifikan antara tingkat pertumbuhan dan presentase jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan?.
Seperti telah dibahas sebelumnya, banyak studi empiris yang memang membuktikan adanya suatu relasi trade off yang kuat antara laju pertumbuhan pendapatan dan  tingkat kemiskinan, namun hubungan negatif tersebut tidak sistematis. Namun, dari beberapa studi empiris yang pernah dilakukan, pendekatan yang digunakan berbeda-beda dan batas kemiskinan yang dipakai beragam pula, sehingga hasil atau gambaran mengenai hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan juga berbeda.

5.   Kebijakan Antikemiskanan
Kebijakan antikemiskinan dan distribusi pendapatan mulai muncul sebagai salah satu kebijakan yang sangat penting dari lembaga-lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB, UNDP, ILO, dan lain-lain pada tahun 1970, pada saat komite dari PBB untuk perencanaan pembangunan masyarakat menyiapkan suatu deklarasi untuk Dekade Pembagunan Kedua dari PBB yang isinya adalah:.. the efforrs needed are best characterized by what is sometimes called the necessary ‘war on poverty’. Komite tersebut mendeklarasikan bahwa penurunan kemiskinan lewat percepatan proses pembangunan, penyempurnaan distribusi pendapatan, dan perubahan-perubahan social lainnya sebagai tujuan penting dari suatu strategi pembangunan internasional yang tepat. 
Tahun 1990, Bank Dunia lewat laporannya World Developent Report on Proverty mendeklarasikan bahwa suatu peperangan yang berhasil melawan kemiskinan perlu dilakukan secara serentak pada tiga front : (i) pertumbuhan ekonomi yang luas dan padat karya yang menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi kelompok miskin, (ii) pengembangan SDM (pendidikan, kesehatan, dan gizi), yang memberi mereka kemampuan yang lebih baik untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi, (iii) membuat suatu jaringan pengaman sosial untuk mereka yang diantara penduduk miskin yang sama sekali tidak mamu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan perkembangan SDM akibat ketidakmampuan fisik dan mental, bencana alam, konflik sosial, dan terisolasi secara fisik.
Pada tahun 2000, Bank Dunia muncul dengan suatu kerangka kerja analisis yang baru untuk memerangi kemiskinan yang dibangun di atas tiga pilar, yakni: pemberdayaan, keamanan, dan kesempatan. Pemberdayaan adalah proses peningkatan kapasitas dari penduduk miskin untuk mempengaruhi lembaga-lembaga pemierintah yang mempengaruhi kehidupan mereka, dengan memperkuat pertisipasi mereka didalam proses-proses politik dan pengembalian keputusan pada tingkat local. Keamanan adalah proteksi bagi orang miskin terhadap goncangan-goncangan yang merugikan, lewat manajemen yag lebih baik dalam menangani goncangan-goncangan ekonomi makro dan juga jaringan-jaringan pengamanan yang lebih komprehensif. Sedangkan, kesempatan adalah proses peningkatan akses dari kaum miskin terhadap dua asset penting, yakni modal fisik dan modal manusia (SDM) dan peningkatan tingkat dari pengemalian dari asset-aset tersebut. Kebijakan antikemiskinan di Indonesia terefleksi dari besarnya pegeluaran dalam APBN ntuk membiayai program-program pemberantasan kemiskinan di tanah air.
Untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi kemiskinan diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan perantaranya dapat dibagi menurut waktu, yaitu :
     i.        Intervensi jangka pendek, berupa :
a.    Pembangunan sektor pertanian, usaha kecil, dan ekonomi pedesaan
b.    Manajemen lingkungan dan SDA
c.    Pembangunan transportasi, komunikasi, energi dan keuangan
d.   Peningkatan keikutsertaan masyarakat sepenuhnya dalam pembangunan
e.    Peningkatan proteksi sosial (termasuk pembangunan sistem jaminan sosial)
    ii.        Intervensi jangka menengah dan panjang, berupa :
a.    Pembangunan/penguatan sektor usaha
b.    Kerjsama regional
c.    Manajemen pengeluaran pemerintah (APBN) dan administrasi
d.   Desentralisasi
e.    Pendidikan dan kesehatan
f.    Penyediaan air bersih dan pembangunan perkotaan
g.    Pembagian tanah pertanian yang merata.

6.   Faktor-faktor penyebab kemiskinan
Pada umumnya di negara Indonesia penyebab-penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut:
·         Laju Pertumbuhan Penduduk.
Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat di setiap 10 tahun menurut hasil sensus penduduk. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 1990 Indonesia memiliki 179 juta lebih penduduk. Kemudian di sensus penduduk tahun 2000 penduduk meningkat sebesar 27 juta penduduk atau menjadi 206 juta jiwa. dapat diringkaskan pertambahan penduduk Indonesia persatuan waktu adalah sebesar setiap tahun bertambah 2,04 juta orang pertahun atau, 170 ribu orang perbulan atau 5.577 orang perhari atau 232 orang perjam atau 4 orang permenit. Banyaknya jumlah penduduk ini membawa Indonesia menjadi negara ke-4 terbanyak penduduknya setelah China, India dan Amerika. Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesiasemakin terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebanding dengan jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya beban ketergantungan yang harus ditanggung membuat penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
·         Angkatan Kerja,
Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran. Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong sebagi tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam batas usia kerja. Batasan usia kerja berbeda-beda disetiap negara yang satu dengan yang lain. Batas usia kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Jadi setiap orang atausemua penduduk berumur 10 tahun tergolong sebagai tenaga kerja.
·         Sisanya merupakan bukan tenaga
Sesungguhnya kemiskinan bukanlah persoalan baru di negeri ini. Sekitar seabad sebelum kemerdekaan Pemerintah Kolonial Belanda mulai resah atas kemiskinan yang terjadi di Indonesia [Pulau Jawa]. Pada saat itu indikator kemiskinan hanya dilihat dari pertambahan penduduk yang pesat [Soejadmoko, 1980].

Kini di Indonesia jerat kemiskinan itu makin akut. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen Kemiskinan tidak hanya terjadi di perdesaan tapi juga di kota-kota besar seperti di Jakarta. Kemiskinan juga tidak semata-mata persoalan ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural.
Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan pelayanan kesehatan, dan kemudahan – kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern. Pemerintah Indonesia yang berorientasi mengembangkan Indonesia menjadi negara maju dan mapan dari segi ekonomi tentu menganggap kemiskinan adalah masalah mutlak yang harus segera diselesaikan disamping masalah lain yaitu ketimpangan pendapatan, strukturisasi pemerintahan, inflasi, defisit anggaran dan lain lain. 
Masalah kemiskinan yang dihadapi di setiap negara akan selaludi barengi dengan masalah laju pertumbuhan penduduk yang kemudian menghasilkan pengangguran, ketimpangan dalam distribusi pendapatan nasional maupun pembangunan, dan pendidikan yang menjadi modal utama untuk dapat bersaing di dunia kerja dewasa ini.
Tidak dapat dipungkiri bahwa yang menjadi musuh utama dari bangsa ini adalah kemiskinan. Sebab, kemiskinan telah menjadi kata yang menghantui negara-negra berkembang. Khususnya Indonesia. Mengapa demikian? Jawabannya karena selama ini pemerintah [tampak limbo] belum memiliki strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan yang jitu. Kebijakan pengentasan kemiskinan masih bersifat pro buget, belum pro poor. Sebab, dari setiap permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran, dan kekerasan selalu diterapkan pola kebijakan yang sifatnya struktural dan pendekatan ekonomi [makro] semata. Semua dihitung berdasarkan angka-angka atau statistik. Padahal kebijakan pengentasan kemiskinan juga harus dilihat dari segi non-ekonomis atau non-statistik. Misalnya, pemberdayaan masyarakat miskin yang sifatnya “buttom-up intervention” dengan padat karya atau dengan memberikan pelatihan kewirauasahaan untuk menumbuhkan sikap dan mental wirausaha [enterpreneur].
Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam kemiskinan bukan karena malas bekerja. Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau melakukan mobilitas sosial secara vertikal.

III. KESIMPULAN

          Menurut penulis, kemiskinan di Indonesia tidak akan berubah jika masyarakat dan pemerintahnya tidak saling bekarja sama. Terlalu banyaknya penduduk di Indonesia merupakan salah satu pemicu kemiskinan di Indonesia, kenapa? Karena dengan banyaknya penduduk di suatu Negara, tingkat penangguran makin banyak pula. Angka kelahiran meningkat, pendidikan kurang di nomor satukan, itu juga merupakan salah satu faktornya. Di Indonesia SDM yang terlatih dan profesional masih sangat minim sekali. Masyarakat daerah di Indonesia masih menganut adat istidadat mereka, “banyak anak banyak rezeki”. Padahal di zaman sekarang, biaya hidup makin mahal dan butuh perjuangan untuk bertahan hidup seperti sekarang.
Contohnya desa saya sendiri, Sobo, Grobogan, Jawa Tengah, pendidikan di desa ini sangat tidak dihiraukan oleh masayarakat desa itu. Rata-rata usia sekolah SMP, mereka bukannya melanjutkan untuk kejenjangan yang lebih tinggi malah memilih untuk bekarja di kota-kota besar. Selain faktor keuangan keluarga mereka juga berfikir, untuk apa bersekolah tinggi jika ujung-ujungnya untuk berkerja dan menikah juga. Di desa saya, usia menikah rata-rata terjadi pada usia 17th untuk wanitanya, jika untuk prianya pada usia 20th. Usia produktif yang sangat muda untuk membina rumah tangga. Dengan banyaknya menikah di usia muda, itu juga menambah tingakat kepadatan penduduk di Indonesia.
Banyaknya penduduk usia produksi hijrah ke Ibukota dengan iming-iming tinggal di Ibukota hidup akan sejahtera. Kenyataannya tidak, malah terlalu banyak pengangguran, pengemis, gelandangan dan hidup luntang-lantung tanpa arah.
Pemerintah juga hanya mementingkan bagaimana Negara ini baik dimata dunia, seperti Politik Mercusuar yang terjadi pada era Orde Lama. Saya merasa, pemerintahaan Indonesia selalu meng-import bahan-bahan pokok sehari-hari. Padahal Negara ini terkenal sebagai Negara agraris dan perairan, mengapa tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin, mengapa hanya bisa meng-import barang-barang dari luar. Kegiatan ini bukan hanya mengeluarkan dan menghabiskan kas Negara saja melainkan beberapa tahun kedepan kita akan keteteran dalam hal uang jika terus begini.
Banyak pendapat yang mengatakan faktor-faktor dan penyebab kesimpulan tentang tingkat kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Indonesia, berikut adalah beberapa pendapat:

Kondisi Umum Masyarakat
Krisis ekonomi yang berkepanjangan menambah panjang deret persoalan yang membuat negeri ini semakin sulit keluar dari jeratan kemiskinan. Hal ini dapat kita buktikan dari tingginya tingkat putus sekolah dan buta huruf. Hingga 2006 saja jumlah penderita buta aksara di Jawa Barat misalnya mencapai jumlah 1.512.899. Dari jumlah itu 23 persen di antaranya berada dalam usia produktif antara 15-44 tahun. Belum lagi tingkat pengangguran yang meningkat “signifikan.” Jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 di Indonesia sebanyak 12,7 juta orang. Ditambah lagi kasus gizi buruk yang tinggi, kelaparan/busung lapar, dan terakhir, masyarakat yang makan “Nasi Aking.”
Di Nusa Tenggara Timur (NTT) 2000 kasus balita kekurangan gizi dan 206 anak di bawah lima tahun gizi buruk. Sedangkan di Bogor selama 2005 tercatat sebanyak 240 balita menderita gizi buruk dan 35 balita yang statusnya marasmus dan satu di antaranya positif busung lapar. Sementara di Jakarta Timur sebanyak 10.987 balita menderita kekurangan gizi. Dan, di Jakarta Utara menurut data Pembinaan Peran Serta Masyarakat Kesehatan Masyarakat [PPSM Kesmas] Jakut pada Desember 2005 kasus gizi buruk pada bayi sebanyak 1.079 kasus.

Dampak Kemiskinan
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks.
* pengangguran. Sebagaimana kita ketahui jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 saja sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah yang cukup “fantastis” mengingat krisis multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini. Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
* kekerasan. Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.
* pendidikan. Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.
* kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
* konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan “keamanan” dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif.
Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan.

Pendapat lain mengatakan, ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan Buatan diakibatkan oleh imbas dari para birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.
Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran. Berikut sedikit penjelasan mengenai kemiskinan yang sudah menjadi dilema mengglobal yang sangat sulit dicari cara pemecahan terbaiknya.
Kesenjangan  dan kemiskinan yang terjadi di Indonesia merupakan akumulasi dari berbagai masalah yang kompleks sejalan dengan perjalanan bangsa, baik melalui faktor eksternal maupun internal. Kemiskinan merupakan penyakit utama dunia ketiga, ketika ketidakmampuan mengeksploitasi sumber daya dimanfaatkan oleh pemilik kapital dan negara maju atas nama globalisasi.
Persoalan politik tidak terlepas ketika  sebuah kebijakan tidak  memihak struktur kelas bawah (grass root), siklus ekonomi tidak terjadi, kemacetan pasar karena keterbatasan daya saing dan daya jual.  Kewirausahaan tidak ditanamkan dan ketika aliran kemakmuran tidak didistribusikan secara merata.
Persoalan kebijakan merupakan masalah mendasar ketika negara dunia ketiga berupaya merestrukturisasi  sistem perekonomian, sistem perpajakan dan sistem investasi dan kasus untuk negara ketiga adalah sistem pengucuran modal kredit yang selalu tidak adil dan memihak.
Kasus tingginya angka kemiskinan di Indonesia, membuat sebagian orang tidak percaya apakan orang Indonesia benar-benar miskin, apakah pertumbuhan ekonomi begitu rendah, apakah angka inflasi melambung ketika mobil-mobil mewah berkeliaran di jalan, ketika villa-villa megah dibangun dan ketika para pejabat birokrasinya berlomba-lomba mengadakan perjalanan keluar negeri.
Pendapat selanjutnya, Tingkat kesenjangan ekonomi dan jumlah penduduk miskin di Indonesia berkurang dan dapat dikatakan bahwa perubahan ini merupakan salah satu hasil pembangunan ekonomi ditanah air selama ini. Namun masih banyak permasalahan dengan kemiskinan dan kesenjangan.
Hingga saat ini, penentu garis kemiskinan masih berdasarkan kebutuhan fisik dan pendidikan tinggi. Tanpa adanya pendidikan yang baik tidak akan bisa terjadi progres di dalam kehidupan.




IV. DAFTAR PUSTAKA
Sumber:
Tambunan, T.H Tulus. 2003. PEREKONOMIAN INDONESIA. Jakarta: Ghalia Indonesia












Selasa, 08 Maret 2011

Neraca Pembayaran


Bab 2
Neraca Pembayaran

                        I. PENDAHULUAN
           
Dalam bab 2 ini,  saya membahas tentang neraca pembayaran yang mencangkup 3 faktor, yaitu: pendapatan perkapita, GNP dan GDP. Beberapa hal yang erat hubunganya dengan efek kegiatan ekonomi dalam perekonomian terbuka dibicarakan di dalam bab ini. Bab ini akan menerangkan mengenai neraca pembayaran, yaitu suatu neraca keuangan yang mengemukakan data mengenai perdagangan ekspor dan impor dan aliran ke luar dan aliran masuk dana modal ke suatu Negara.
Bab ini membahas tentang neraca pembayaran, termasuk juga faktor di dalam yang dapat mempengaruhi adanya neraca pembayaran suatu Negara. Tingkat pertumbuhan ekonomi harus lebih besar dari pada laju pertumbuhan penduduk, agar pendapatan per-kapitan dapat tercapai. GNP dan GDP juga dapat mempengaruhi pendapatan perkapita Negara, dan dapat disusun dalam neraca pembayaran.

                      II. PEMBAHASAN

Ada beberapa versi yang mengatakan tentang pengertian neraca pembayaran, berikut adalah pengertian neraca pembayaran yang di ambil dari beberapa kutipan buku dan juga internet.
Menurut buku Perekonomian Indonesia karya Dr. Tulus Tambunan, mengatakan bahwa, neraca pembayaran (BOP) adalah catatan sistematis dari semua transaksi ekonomi internasional (perdagangan, investasi, pinjaman, dan sebagainya) yang terjadi antara penduduk dalam negeri suatu Negara dengan penduduk luar negeri selama jangka waktu tertentu dan biasanya dinyatakan dalam dollar AS.
BOP terdiri atas tiga saldo, yakni saldo neraca transaksi berjalan (TB), saldo neraca modal (CA), dan saldo neraca moneter (MA). Saldo TB adalah jumlah saldo dari neraca perdagangan (NP), yang mencatat ekspor (X) dan impor (M) barang; neraca jasa (NJ), yang mencatat X dan M jasa termasuk pendapatan/pembayaran royalty dan bunga deposito, transfer keuntungan bagi investor asing, pembayaran bunga cicilan utang luar negeri (ULN), dan kiriman uang masuk dari tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri; dan transaksi sepihak, yakni yang mencatat transaksi keuangan internasional sepihak atau tanpa melakukan kegiatan tertentu sebagai kompensasi dari pihak penerima.
Jika menurut buku Makro Ekonomi karya Sadono Sukirno, neraca pembayaran adalah suatu system catatan aliran keuangan yang menunjukkan nilai transaksi perdagangan dan aliran dana yang dilakukan antara suatu Negara dengan Negara lain dlam suatu tahun tertentu.  Neraca pembayaran dapat dibedakan kepada dua bagian yang utama, yaitu nerca berjalan dan nerca modal.
Neraca berjalan mencatat transakasi berikut:
      i.        Ekspor dan impor barang tampak
    ii.        Ekspor dan impor jasa (atau barang tak tampak)
   iii.        Pembayaran pindahan neto ke luar negeri

Dalam Neraca Modal meliputi dua golongan transaksi, yaitu aliran modal jangka
panjang dan aliran modal keuangan swasta.

1.     Aliran modal jangka panjang
Ia meliputi dua jenis aliran modal: aliran modal resmi dan investasi langsung oleh pihak swasta ke Negara-negara lain. Aliran modal resmi adalah pinjaman dan pembayaran di antara bada-badan pemerintahan di suau Negara dengan Negara-negara lain. Sedangkan investasi langsung swasta adalah penanaman modal langsung, yaitu investasi berupa mendirikan perusahaan-perusahaan—terutama perindustrian. Modal yang dibelanjakan diperoleh dari Negara asal perusahaan tersebut. Perbedaan di antara modal jangka panjang yang diterima dari luar negeri dengan modal jangka panjang yang dibayar ke luar negeri dinamakan neraca modal jangka panjang. Apabila positif, keadaan ini berarti lebih banyak modal jangka panjang yang diterima dari luar negeri dari yang dibayarkan ke luar negeri. Aliran seperti ini mambantu memperkukuh neraca pembayaran. Di smping itu aliran modal jangka panjang dapat meningkatkan perbelanjaan pembangunan pemeritah dan investor sector swasta.

2.    Aliran modal swasta dan kesilapan-ketinggalan
Dua akun penting dalam neraca pembayaran meliputi akun modal swasta dan kesilapan-ketinggalan. Yang dimaksudkan dengan modal swasta adlah aliran-aliran modal dalam bentuk tabungan atau investasi keuangan yang dapat dengan cepat ditukarkan kembali kepada valuta ang asla atau valuta lainnya. Aliran keuangan ini selalu dinamakan juga sebagai hot money. Dinamakan demikian karena dana tersebut dapat mengalir dari satu Negara ke Negara lain dengan mudah dan dengan waktu yang cepat. Uang tersebut biasanya uang yang diinvestasikan di pasaran uang dan pasaran modal untuk memperoleh keuntungan dari investasi tersebut. Pembelian saham-saham domestic oleh suatu perusahaan “mutual fund” di New York merupakan salah satu contoh dari aliran masuk modal swasta.  

Menurut dari internet yang saya dapatkan di situs Wikipedia Indonesia, Neraca pembayaran merupakan suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Neraca pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, dan transaksi finansial. Umumnya neraca pembayaran terbagi atas neraca transaksi berjalan dan neraca lalu lintas modal dan finansial, dan item-item finansial.
Transaksi dalam neraca pembayaran dapat dibedakan dalam dua macam transaksi. (i) Transaksi debit, yaitu transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari dalam negeri ke luar negeri. Transaksi ini disebut transaksi negatif (-), yaitu transaksi yang menyebabkan berkurangnya posisi cadangan devisa.
(ii) Transaksi kredit adalah transaksi yang menyebabkan mengalirnya arus uang (devisa) dari luar negeri ke dalam negeri. Transaksi ini disebut juga transaksi positif (+), yaitu transaksi yang menyebabkan bertambahnya posisi cadangan devisa negara.

Pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan perkapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan perkapita juga merefleksikan PDB per kapita.
Pendapatan perkapita sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan perkapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahun. Pendapatan nasional merupakan salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi suatu negara.    

Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:
*         Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.
*         Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri, agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).
*         Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor (XM)

·         Sejarah
Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665. Dalam perhitungannya, ia menggunakan anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP), yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut harga pasar pada suatu negara.
·         Konsep
Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional
a)    Produk Domestik Bruto (GDP)
Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.
PDB (Gross Domestic Product/GDP) adalah jumlah nilai dari semua produk akhir barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu kawasan di dalam periode waktu tertentu. PDB mencakup konsumsi pemerintah, konsumsi masyarakat, investasi dan eksport dikurangi impor di dalam kawasan tertentu.

Rumus PDB :
PDB = C + I + G + (X-I)

C= Konsumsi masyarakat
I = Investasi
G = Pengeluaran pemerintah
X = Eksport
I = Import

PDB merupakan salah satu indikator yang penting dalam melihat sehat tidaknya perekonomian suatu kawasan selain untuk menakar tingkat kemakmuran kawasan tersebut.  Biasanya PDB disajikan sebagai perbandingan ke kuartal atau tahun sebelumnya. Sebagai contohnya jika PDB tahun ke tahun Indonesia naik  5,5% itu artinya ekonomi Indonesia bertumbuh sebanyak 5,5% selama tahun terakhir tersebut.
Seperti yang biasa terlihat, produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang dipresentasikan oleh PDB mempunyai dampak yang besar kepada perekonomian. Sebagai contohnya, jika ekonomi suatu negara dinyatakan sehat maka dapat diartikan dengan tingkat pengangguran yang rendah dimana banyak permintaan tenaga kerja dengan upah gaji yang meningkat menandakan pertumbuhan dari industri-industri di dalam ekonomi. Perubahan yang signifikan di dalam PDB apaah positif atau negatif mempunyai dampak yang besar kepada pasar saham. Dengan mudah dapat dijelaskan bahwa ekonomi yang tidak sehat berarti penurunan keuntungan bagi perusahaan yang dalam arti praktis diartikan sebagai penurunan harga saham perusahaan tersebut. Investor sangat khawatir dengan pertumbuhan negatif PDB yang dapat diartikan oleh para ekonom seperti saya yaitu tanda terjadinya resesi.
GDP Perkapita adalah perbandingan total PDB suatu negara dibagi dengan jumlah penduduk di negara tersebut. GDP perkapita berguna dalam memperbandingkan suatu negara dengan negara lainnya untuk menunjukan performa (relatif) ekonomi negara yang bersangkutan. GDP perkapita dipandang juga dalam mengukur tingkat standar hidup dalam suatu negara dengan GDP perkapita yang tinggi diartikan dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi pula.
GDP berdasarkan Pendekatan Pendapatan.
Menurut McEachern (2000:151) pendapatan agregat sama dengan penjumlahan semua pendaptan yang diterima pemilik sumber daya dalam perekonomian (karena sumber dayanya digunakan dalam proses produksi). Sistem pembukuan double-entry dapat memastikan bahwa nilai output agregat sama dengan pendapatan agregat yang dibayarkan untuk sumber daya yang digunakan dalam produksi output tersebut: yaitu upah, bunga, sewa, dan laba dari produksi. Jadi kita dapat mengatakan bahwa:
Pengeluaran agregat = GDP = Pendapatan agregat
Suatu produk jadi biasanya diproses oleh beberapa perusahaan dalam perjalanannya menuju konsumen. Meja kayu, misalnya, mulanya sebagai kayu mentah, kemudian dipotong oleh perusahaan pertama, dipotong sesuai kebutuhan mebel oleh perusahaan kedua, dibuat meja oleh perusahaan ketiga, dan dijual oleh perusahaan keempat. Double counting dihindari dengan cara hanya memperhitungkan nilai pasar dari meja pada saat dijual kepada pengguna akhir atau dengan cara menghitung nilai tambah pada setiap tahap produksi. Nilai tambah dari setiap perusahaan sama dengan harga jual barang perusahaan tersebut dikurangi dengan jumlah yang dibayarkan atas input perusahaan lain.
Nilai tambah dari tiap tahap mencerminkan pendapatan atas pemilik sumber daya pada tahap yang bersangkutan. Penjumlahan nilai tambah pada semua tahap produksi sama dengan nilai pasar barang akhir, dan penjumlahan nilai tambah seluruh barang dan jasa akhir adalah sama dengan GDP berdasarkan pendekatan pendapatan.

b)   Produk Nasional Bruto (GNP)
Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.
            Produk Nasional Bruto (Gross National Product/GNP) adalah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara dalam periode tertentu, biasanya satu tahun, termasuk didalamnya barang dan jasa yang dihasilkan warga negara tersebut yang berada atau bekerja diluar negeri. Barang dan jasa yang dihasilkan warga negara asing yang bekerja didalam negeri, tidak termasuk GNP.
Produk Nasional Bruto (GNP) merupakan pendapatan nasional yang dihitung dengan mengeluarkan faktor pendapatan dari warganegara asing yang berdomisili di negara tersebut dan hanya menghitung nilai barang dan jasa yang hanya dihasilkan oleh orang yang berkewarganegaraan negara tersebut saja. Dalam perhitungan, istilah ini lebih sering digunakan karena dapat menggambarkan dengan jelas prestasi ekonomi negara yang bersangkutan tanpa pengaruh dari pihak asing (dalam bentuk penanaman modal asing).
Perlu dibedakan GNP dari NNP (Net National Product) atau produk nasional neto, dimana NNP oleh banyak orang dianggap lebih tepat untuk menggambarkan kondisi perekonomian nasional karena mengeluarkan faktor penggantian modal (depresiasi) dalam perhitungannya. Jadi Pendapatan Nasional Neto (NNP) adalah pendapatan nasional yang hanya memperhitungkan investasi neto (nilai investasi bersih setelah dikurangi depresiasi dari aktiva investasi).
GNP dapat digunakan sebagai indikasi perekonomian suatu negara. Akan tetapi, Indikator tersebut juga mempunyai kelemahan yaitu :
1. Tidak memperhitungkan kegiatan produksi yang bersifat mikro seperti kegiatan rumah tangga.
2. Tidak dapat memperhitungkan kegiatan ekonomi bawah tanah (underground enocomy activities) seperti penghindaran pajak, penyelundupan dan bisnis ilegal lainnya.
3. GNP tidak memperhitungkan nilai dari aktivitas rekreasi
4. GNP tidak memperhitungkan perubahan kualitas dari barang dan jasa
5. GNP tidak memperhitungkan biaya polusi dan biaya yang timbul akibat kerusakan lingkungan.
·         Perhitungan GNP
Dalam pendapatan nasional yang dihitung adalah jumlah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian. Perhitungan pendapatan nasional menyajikan ukuran-ukuran keseluruhan agregat nilai dasar dari seluruh barang dan jasa dalam bentuk produk akhir/jadi. Ada 3 istilah dalam pengukuran pendapatan nasional yaitu:
1. Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product).
2. Produk Nasional Bruto (Gross National Product).
3. Produk Nasional Neto (Net National Product).

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Unsur-Unsur Neraca Pembayaran Indonesia

Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi unsur-unsur neraca pembayaran Indonesia dengan metode OLS selama kurun waktu 1970 - 2003. Hasil analisis menunjukkan bahwa neraca pembayaran Indonesia mengalami perkembangan yang surplus  pasca krisis moneter. Hal ini dikarenakan semakin membaiknya kinerja ekspor sehingga mampu meningkatkan penerimaan negara dari ekspor. Namun untuk neraca jasa, Indonesia masih mengalami defisit, sedangkan untuk neraca modal, Indonesia mengalami defisit  pasca krisis moneter melanda Indonesia.
 Berdasarkan hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, investasi, dan ekspor tahun sebelumnya berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia pada tahun berjalan. Sedangkan untuk inflasi berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap ekspor Indonesia pada tahun berjalan dan untuk suku bunga dalam negeri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia selama kurun waktu 1970 - 2003.
Sementara itu, faktor-faktor yang memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap impor di Indonesia pada tahun berjalan adalah pendapatan nasional dan impor tahun sebelumnya, sedangkan inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap impor Indonesia pada tahun berjalan selama periode 1970 - 2003.
Sementara untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan suku bunga dalam negeri berdampak negatif dan signifikan terhadap impor Indonesia pada tahun berjalan. Selanjutnya, untuk suku bunga dalam negeri dan ekspor berpengaruh positif dan signifikan terhadap arus modal neto di Indonesia, sedangkan inflasi berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap arus modal neto di Indonesia. Sementara untuk suku bunga luar negeri dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak negatif dan signifikan terhadap arus modal neto di Indonesia selama kurun waktu penelitian, yakni 1970 - 2003.

·         Kabar dari VIVAnems pada tahun 2010:
Pendapatan per kapita 2010 diperkirakan naik sekitar US$3.000 atau Rp27 juta per tahun. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, kenaikan itu disebabkan dua faktor. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai sekitar enam persen atau lebih, yang pada gilirannya akan meningkatkan PDB. Dampaknya akan lebih bagus jika pertumbuhan PDB lebih cepat dibanding laju pertumbuhan penduduk.
"Pertumbuhan ekonomi 2010 hampir pasti sekitar enam persen atau lebih," ujar Rusman ketika dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, Selasa, 4 Januari 2011.
Faktor kedua, karena apresiasi rupiah. Hitungan pendapatan per kapita selama ini didasarkan pada kurs dolar. "Karena kita harus konversi dolar berdasarkan kurs, ada windfall juga," ujarnya.
Menurut Rusman, target pertumbuhan ekonomi pemerintah di tahun 2011 sebesar 6,4% bukan hanya bisa dicapai, bahkan dapat dilampaui. Jika momentum pertumbuhan terus dijaga, dia hakulyakin pertumbuhan ekonomi bisa mencapai tujuh persen. Syaratnya: pembangunan infrastruktur, iklim usaha yang baik, dan ekonomi dunia tidak membawa pengaruh negatif terhadap ekonomi Indonesia. Makin bergairahnya perekonomian nasional akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan per kapita.
"Kita sudah mempunyai modal di 2010 yang bagus, tinggal bagaimana kita mengelolanya dan tetap mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi. Kita manfaatkan momentum geliat ekonomi dunia," ujarnya, optimistis. (kd)
III. KESIMPULAN

            Neraca pembayaran: suatu caatan atau data yang menunjukkan berbagai bentuk aliran masuk dan aliran keluar keuangan yang ddisebabkan oleh transaksi dalam neraca berjalan dan neraca modal, yang berlaku suatu tahun tertentu. Pada umumnya data yang ditebitkan meliputi aliran bersih, yaitu aliran masuk keuangan dikurangi aliran keluar keuangan.
Bentuk umum pembayaran adalah seperti yang di tunjukkan di bawah ini:
A.   Neraca perdagangan                                    : (X-M)
Ekspor                                                 : X
Impor                                                  : M
B.    Neraca jasa (neto)                                       :
Pengangkutan dan asurans  i           :
Pelanjong dan perjalanan     :
Pendapatan Investasi                       :
C.    Transfer (neto)                                            :
NERACA AKUN BERJALAN                               : A+B+C
D.   Neraca modal jangka panjang                    :
Modal pemerintah                             :
Investasi langsung pemerintah    :
E.    Modal swasta                                     :
F.    Ralat dan ketinggalan                                   :
     NERACA KESELURUHAN                                  : A+B+C+D+E+F

            Neraca akun berjalan: perbedaan nilai aliran masuk dengan aliran keluar meliputi tiga akun berikut: akun barangan, akun jasa (termasuk pendapatan investasi) dan akun pembayaran pindahan.
            Neraca keseluruhan: deficit atau surplus di antara aliran keuangan yang mask ke sebuah Negara dengan aliran keungan yang keluar dari Negara terebut. Neraca keseluruhan merupakan gabungan dari neraca berjalan dan neraca modal.
Neraca keseluruhan akan menunjukkan apakah neraca pembayaran dalam keadaan surplus atau defisit. Defisit dalam neraca pembayaran akan mengurangi cadangan, dan surplus dalam neraca pembayaran akan menanbah cadangan valuta asing.  Suatu Negara dikatakan keadaan yang ideal ialah: mencapai kesempatan kerja penuh dalam keadaan neraca pembayaran yang kukuh (dalam keadaan surplus). Apabila salah satu dari masalah dihadapi kebijakan pemerintah (kebijakan fiskal dan kebijakan moneter) perlu dijalankan.
Untuk mengatasi masalah yang dinyatakan dalam (i) pemerintah perlu menambah perbelanjaan agregat seperti yang digunakan dlam perekonomian tertutup (menambah C, I, dan G) dan menambah ekspor tetapi mengurangi impor. Masalah yang dinyatakan dalam (ii) diatasi dengan melakukan langkah yang sebaliknya dari yang baru saja dinyatakan. Masalah dalam (iii) diatasi dengan menjalankan kebijakan mengurangi perbelanjaan (pengeluaran).




IV. DAFTAR PUSTAKA


Sumber:
Sukirno, Sadono. 2006. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Tambunan, T.H Tulus. 2003. PEREKONOMIAN INDONESIA. Jakarta: Ghalia Indonesia











Pengikut